Rakyat Dibohongi Bank, Pengembang Ingin Untung Besar

Jumat, 16 Mar 2012 14:51 WIB
Djan Faridz:
MedanBisnis – Jakarta. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz punya cara pandang tersendiri soal ambisinya memangkas harga rumah serendah-rendahnya termasuk bunga kredit rumah murah. Baginya perbankan maupun pengembang terlalu berlebihan dalam mengambil keuntungan, padahal rumah kelas ini untuk kepentingan rakyat bawah.
Misalnya saat kisruh perdebatan penurunan bunga KPR subsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Dia kini akhirnya bisa memangkas bunga KPR tersebut dari paling rendah 8,15% menjadi 7,25%. “Karena untuk menolong rakyat kecil, kasihan dong rakyat dibohongi sama bank, bunga SBI turun, mereka nggak mau turun. Sama kayak pengembang, kalau bisa untung besar kenapa harus untung kecil,” tegas Djan saat ditemui di kantornya, Rabu lalu.

Menurutnya dengan harga rumah sederhana bisa ditekan menjadi Rp 70 juta – Rp 80 juta per unit lalu dengan suku bunga KPR FLPP sudah turun menjadi 7,25% maka target pembiayaan rumah subsidi bisa tembus dari target 200.000 unit di tahun ini. “Mungkin dengan harga yang turun begini, mungkin targetnya bisa naik jadi 300.000. Apalagi kalau PNS, untuk PNS jualnya cuma Rp 25 juta. Sementara FLPP yang sekarang kan (maksimal pembiayaan) harganya Rp 70 juta,” jelas Djan.

Djan juga menambahkan sudah banyak perbaikan dan kemudahan dalam sistem KPR subsidi FLPP tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Misalnya soal kewajiban batas saldo tabungan yang harus dipenuhi nasabah yang mengambil KPR subsidi dan berbagai kemudahan lainnya.
“Sudah ada asuransinya dan asuransinya itu ditanggung sama bank, dulu orang kalau beli rumah (FLPP) dia datang ke bank bayar uang muka 10% ditambah biaya asuransi dan biaya wajib punya simpanan (tabungan) selama 3 bulan, jadi Rp 11,7 juta. Sekarang cukup uang mukanya Rp 7,4 juta dan bank oke nggak ada masalah,” katanya.

Untung Besar
Sebagai pejabat yang berlatar belakang bisnis pengembang, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz tahu persis kalkulasi seorang pengembang properti.

Dia menuturkan, salah satu penyebab tawaran rumah murah dengan biaya produksi Rp 25 juta yang dijual Rp 70 juta – Rp 80 juta belum direspons maksimal oleh pengembang karena marjin yang tipis sehingga tak menarik bagi pengembang. “Bukan nggak sesuai, tetapi untungnya nggak sesuai. Karena keuntungannya kurang menarik,” kata Djan kepada wartawan.

Dia juga mengatakan, saat ini pengembang di Jabodetabek seperti dari Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) masih tetap ngotot bahwa harga rumah Rp 70 juta – Rp 80 juta terutama di Bodetabek tak mungkin direalisasikan. Bagi mereka harga rumah minimal yang bisa dijual dengan keuntungan yang pas bagi pengembang adalah Rp 120 juta.

“Mereka (Apersi) mengajukan gugatan ke MK (Mahkamah Konstitusi) untuk harga rumah tipe 36, kalau nggak salah dia ngajuin ke MK harganya Rp 120 juta. Mana ada rumah harga Rp 120 juta,” katanya.

Menurutnya keinginan pengembang menjual harga rumah tapak sederhana tipe 36 dengan harga minimal Rp 120 juta, semakin jelas-jelas menunjukan kalangan pengembang ingin mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. “Tadi dihitung-hitung ada berapa, Rp 80 juta kan. Dari Rp 80 juta, mereka masih ingin untung lagi sebesar Rp 40 juta, itu kebanyakan,” katanya.

Menurutnya harga Rp 70-80 juta sudah sangat realistis bagi pengembang, karena selain pengembang bisa untung, daya beli masyarakat terhadap rumah ini bisa lebih besar. “Harga Rp 80 aja, dia sudah untung 20%. Itu sudah termasuk overhead untuk marketing sama risiko. Dan itu harga sudah dibulat-bulatkan. Mereka itu sudah untung,” katanya. (dtf)

sumber : http://www.medanbisnisdaily.com/news/arsip/read/2012/03/16/73452/rakyat-dibohongi-bank-pengembang-ingin-untung-besar/#.VNwyQy6z7so

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Why ask?